Kamis, 05 Februari 2009

Pendaki Hilang, Ditemukan Sedang Masak Sop Ayam

Setiap mendengar pendaki gunung hilang saya selalu mengikuti berita itu dengan cermat. Simpati dan kesedihan selalu terasa menyelinap membayangkan mereka kebingungan, hipotermia, digigit cuaca dingin yang amat menusuk, kehabisan perbelakan, kelelahan dan akhirnya maut menjemput.
Saya juga selalu menaruh hormat dan rasa terima kasih mendalam kepada para anggota Tim SAR, tim pencari. Mereka adalah orang-orang tangguh, yang tanpa pamrin mencari, menyusuri jalan-jalan berkabut untuk menemukan jejak mereka yang (dianggap) hilang.


Saat berita hilangnya 7 orang pencinta alam Universitas Yarsi hilang diGunung Salak, Senin (2/2) saya juga mengikuti beritanya dari detik ke detik.Menyesal kesibukan bekerja seringkali tidak memungkinkan saya untuk sekedar turun membantu apa saja buat tim pencari.
Makanya, begitu berita para pendaki itu ditemukan selamat, Selasa siang,saya ikut bersyukur. Mereka selamat, dan keluarga merekapun tentu amatlah lega. Tetapi rasa-rasa itu, tiba-tiba berubah menjadi tawa saat menonton wawancara di stasiun teve denganseorang penduduk seputar Gunung Salak yang ikut mencari. Kalau enggak salah namanya Syafei.
Bapak itu dengan lugu menceritakan kejadian yang dia alami. “Sayalah yang menemukan mereka,” katanya. Ceritanya kira-kira begini, Mang Syafei ikut mencari mahasiswa yang hilang itu di antara puluhan sukarelawan tim pencari. Nah, saat si emang itu sendirian menjejaki hutan berkabut, dari kejauhan dia melihat sejumlah mahasiswa sedang bercanda. “Mereka sedang memasak sop ayam,” kata si Emang.
Saat “ditemukan” si Mang, anak-anak mahasiswa itu bertanya, “Mang saha ya? Mau ke mana?” tanyanya. Si Emang menjawab, “Eh, saya teh sedang mencari kamu. Ayo turun, ibu kamu tuh pingsan-pingsan di bawah,” kata si Mang Syafei.Mereka pun akhirnya barengan turun dengan si emang itu. “Saya yang menemukan , terus saya ketemukan ama tim yang mencari, abis itu saya turun lagi sendiri,” kata si Mang Syafei kepada penyiar teve. yang mewawancaranya.
Buat saya lucu sekali, puluhan orang mencari, tim SAR, anak-anak gunung,penduduk sekitar bersukarela mencari mereka, yang katanay hilang di gunung.Eh, ternyata, orang yang dicari sedang asyik bercanda, memasak sop ayam.. ha..ha
Besoknya saya baca di Kompas (4/2) hal.27 “Tanaman Hutan Selamatkan Pendaki” . Berita itu mengutip Dyte, anggota tim SAR Universitas Yarsi Jakarta.
“Waktu ditemukan pukul 11.17, mereka dalam keadan sehat. Mereka sedang makan tumbuh-tumbuhan hutan saat tim penyelamat tiba. Logistik memang sudah habis, tetapi mereka dilatih bertahan hidup di alam bebas,” kata Dyte.
Dyte boleh saja bicara seperti itu, karena temannya ditemukan hidup.Tetapi jika kematian menjemput, mungkin kata-katanya berbeda.Silakan, teman-teman menafsirkan sendiri: percaya ke si Mang Syafei atau si Dyte, mahasiswa itu.
Buat saya ceritanya jadi lucu pisan, Pendaki Hilang Ditemukan Sedang Masak Sop Ayam…. Persis banget anekdot pendaki gunung, udah bersusah payah memanjat tebing sulit… eh di puncak ada tukang bakso nungguin… ha..ha..

2 komentar:

Abiagi Smith mengatakan...

eh tau ngga dari 70 orang yang nyari tuh korban salasatunya abie..
sialan tuh anak ngerjain mulu..kemarin perwakilan anak2nya disuruh buat pernyataan maaf ke petugas sama TIM SAr dari wanadri..
ah dasar bocah nakal..ada2 saja

zhind mengatakan...

kasian ntu om abie...ntar aq kirim tukang urut dech ma dy,hehehehhe...

"Magical Template" designed by Blogger Buster